Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Khoo Ping Hoo’ Category

Pendekar Penyebar Maut   (lanjutan  Darah Pendekar)

Memburu Ibis

 Karya : Sriwidjono

Kisah ini merupakan lanjutan dari cerita “Darah Pendekar” karya Kho Ping Hoo. Cerita ini berlatar belakang  awal berdirinya dinasti Han dimana Liu Pang  menjadi kaisar pertama setelah menggulingkan Dinasti Chin.  Dimulai dengan terbunuhnyaseluruh keluarga  pangeran pelarian dari dinasti Chin dikarenakan sebuah Cap Kerajaan. Seorang anak dari pangeran Dinasti Chin sempat selamat dari pembunuhan bernama Chin Yang Kun,dengan mmembawa dendam ia mengembara demi mengetahui siapakah pembunuh keluarganya.

Dalam pengembaraanya Chin Yang Kun terkena racun yang mengakibatkan dirinya menjadi manusia beracun.  Pertemuannya dengan seorang perwira kerajaan yang tanpa diketahuinya ternyata adalah penyamaran dari kaisar Han (Liu Pang). Ketika dalam istana kaisar dalam suatu bencana gempa bumi ia terperangkap di sebuah ruang bawah tanah tepat dibawah istana kaisar, ditempat itulah ia bertemu dengan seorang tua sakti yang ternyata merupakan nenek moyangnya yang masih bermarga Chin, ditempat itulah ia ditempa denganilmu keluarganya yang ternyata merupakan ilmu sakti jaman dulu, ilmu lweekang Liong Cu I Kang dan  Kim Cih Ih Hoat  sebuah ilmu aneh yang bisa membuat semua anggota tubunya bisa memanjang.  Bukan Cuma itu juga sebuah ilmu dikalangan pertapa yang bernama Lin Cui Sui Hoat (ilmu tidur diatas permukaan air) ilmu yang bisa membuat seseorang bisa meramal apa yang akan terjadi kemudian.

Manusia beracun itulah julukan yang tepat bagi Chin Yang Kun, dan efek samping dari racun yang mengendap ditubuhnya disaat-saat tertentu membuatnya menjadi lupa ingatan sehingga berubah menjadi sesosok iblis penyebar maut.

Dunia Persilatan menjadi geger dengan munculnya sebuah Buku Rahasia milik seorang tokoh sakti yang berdiam di gunung Hoa San yang konon merupakan tokoh nomor satu Bu Lim saat ini. Kemunculan beberapa tokoh sakti yang sudah berumur diatas seratus tahun, terlibatnya jago-jago istana dengan pasukan elitnya “Chap Sa Mi Wi” (30 pengawal rahasia kerajaan) yang dikomandoi Panglima Besar Yap dalam urusan dunia persilatan menjadi bagian cerita ini.

Seiring dengan berjalannya cerita ini diketahui ternyata jago muda kita Chin Yang Kun ternyata adalah putera Kaisar Han sewaktu ia belum menjadi kaisar.

Read Full Post »

Naskah : Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Ilustrator/Karya : Yanes


Cerita Silat bergambar/komik karya Yanes yang diambil dari naskah Asmaraman S. Kho Ping Hoo yang terdiri dari 2 seri. Ilustrasi gambarnya cukup bagus walaupun masih hitam putih, menurut saya mungkin dikarenakan ceritanya dipersingkat jadi jalan ceritanya sederhana, dan kurang gregetnya. Sampai sekarang saya masih belum tahu dari judul karangan Kho Ping Hoo yang mana komik ini dibuat, ada yang tahu …….?

DOWNLOAD Komik  ( Bag 1,  Bag 2 )

Read Full Post »

BU KEK SIAN SU

Karya: Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Bu Kek Siansu adalah sebuah karakter khayalan hasil karya Kho Ping Hoo, dan merupakan serial bersambung terpanjang terbaik disamping seri Pedang kayu Harum (Siang Bhok Kiam). Ia dikisahkan pada masa kecilnya disebut Anak Ajaib (Sin Tong) karena dalam usianya yang amat muda telah memiliki kepandaian dalam mengobati berbagai penyakit. Kebiasaannya menjemur diri di sinar matahari pagi dan di bawah terangnya bulan purnama, menguatkan tulang dan membersihkan darahnya sehingga menarik minat kaum datuk persilatan untuk mengangkatnya menjadi murid.

Perebutan atas diri bocah ajaib yang bernama Kwa Sin Liong, anak tunggal dari Keluarga Kwa di kota Kun-Leng, akhirnya dimenangkan oleh Pangeran Han Ti Ong. Seorang sakti keturunan raja yang bertempat tinggal di sebuah tempat yang mendekati dongeng di laut utara, yang dikenal di kalangan kangouw (sungai-telaga) dengan nama Pulau Es yang konon Istana yang ada dipulau es terdapat banyak sekali kitab-kitab sakti.

Kelak Kwa Sin Liong menjadi pewaris Pulau Es, setelah kerajaan yang dipimpin Han Ti Ong musnah disapu banjir besar (tsunami?). Dia kemudian disebut-sebut sebagai manusia dewa. Dia punya kebiasaan menurunkan satu jenis ilmu silat setiap awal musim semi. Ilmu yang didapat Kam Bu Song (Suling Emas) bersumber darinya.

Namun secara resmi Bu Kek Siansu hanya mempunyai tiga orang murid, yakni Kam Han Ki, Maya dan Khu Siauw Bwee. Nama Bu kek Sian Su terakhir kali muncul di dunia Kangouw pada kisah “Istana Pulau Es”

DOWNLOAD E-book


Read Full Post »

Seri 2: Bu Kek Sian Su

Karya: Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Buku Suling Emas mengisahkan tentang seorang pendekar yang dijuluki Kim Mo Eng (setan berhati emas), yang dalam suatu kesempatan bisa bertemu dan mendapatkan petunjuk ilmu silat dari Bu Kek Siansu (manusia setengah dewa) . Julukan ini memang sesuai dengan watak Kim Mo Eng yang memiliki nama asli Kwee Seng. Dia memiliki gerakan silat seperti setan dan memiliki hati seperti emas karena suka menolong yang lemah. Ilmu silat yang dia pelajari dan telah disempurnakan oleh Bu Kek Sian Su adalah ilmu silat dengan menggunakan senjata dari suling dan kipas.

Kim Mo Eng jatuh cinta pada seorang gadis yang bernama Liu Lu San, tetapi cintanya ini bertepuk sebelah tangan sehingga membuat dirinya kecewa. Kim Mo Eng Memiliki seorang murid yang bernama Kam Bu Song, yang merupakan anak dari Liu Lu Sian. Kam Bu Song inilah yang akhirnya memiliki julukan Suling Emas. Dia memiliki seluruh ilmu Kim Mo Eng, dan mendapatkan beberapa petunjuk ilmu silat dari Bu Kek Sian Su. Buku ini juga menceritakan sepak terjang Kim Mo Eng dan muridnya Suling Emas dalam memberatas kejahatan.

Kisah dalam episode ini tidak menyambung secara langsung dari episode sebelumnya, namun terjadi setelah sang tokoh utama,  Kwee Seng, telah terkenal di dunia persilatan dengan julukan Kim-mo-eng (Pendekar Setan Berhati Emas) dengan jurus-jurus andalannya yang telah disempurnakan oleh manusia setengah dewa Bu-kek Sian Su.

DOWNLOAD E-book

Read Full Post »

Seri 3: Bu Kek Sian Su

Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Cerita ini menyambung langsung kisah sebelumnya “Suling Emas”. Cerita dalam episode ini nantinya akan dilanjutkan dalam episode berikutnya berjudul Mutiara Hitam.

Dalam episode ini, keluarga Kam (keluarga Suling Emas) akan meneruskan kiprahnya sebagai protagonis utama, sedangkan marga Suma (merupakan cikal bakal dari Pendekar Super Sakti Suma Han) baru akan memulainya, meski kebanyakan sebagai antagonis. Episode ini akan meneruskan kembali petualangan Pendekar Suling Emas Kam Bu Song, sepak terjangnya dan kisah asmaranya.

Episode ini diawali beberapa tahun setelah episode sebelumnya. Di puncak Thai-san, awal musim semi, banyak berdatangan manusia yang mengharapkan sedikit petunjuk dariBu Kek Siansu, termasuk di antaranya adalah tokoh-tokoh dari partai-partai ternama dunia persilatan. Namun ketenangan puncak menjadi ternoda saat tiba-tiba datang 3 orang dari Thian-te Liok-koai (Enam Setan Dunia), yaitu: Hek-giam-lo (Maut Hitam)Bayisan, It-gan Kai-ong (Raja Pengemis Mata Satu) Pouw Kee Lui, dan Siang-mou Sin-ni (Dewi Rambut Harum) Coa Kim Bwee.

Mareka lantas membunuhi anggota dari partai-partai ternama itu hanya untuk kesenangan. Kim-siauw-eng (Pendekar Suling Emas) Kam Bu Song yang datang kemudian malah ditawur oleh ketiganya, meski secara diam-diam Bu Kek Siansumenolongnya dan membuat ketiga penjahat itu kabur. Bu Kek Siansu lantas menurunkan 2 ilmu baru kepada Kam Bu Song sesuai dengan wataknya sebagai orang lurus dan terpelajar.

Setelah kepergian Kam Bu Song, ketiga penjahat itu muncul lagi dan meminta Bu Kek Siansu menurunkan ilmu yang sama dengan yang tadi diberikan pada Kam Bu Song. Namun karena dasar berbeda, mereka bukannya paham tapi malah menganggap Bu Kek Siansu mempermainkan mereka, marah karena itu, mereka menyerang Bu Kek Siansudan merampas khim (kecapi) serta kitab Tiong Yong miliknya…..

DOWNLOAD E-book

Read Full Post »

Seri 14 : Bu Kek Sian Su

Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Kisah Si Bangau Putih merupakan episode ke-14 dari cerita silat fiksi Bu Kek Sian Sukarya A. S. Kho Ping Hoo. Episode ini merupakan sambungan langsung dari episode sebelumnya Suling Naga dan kemudian akan dilanjutkan lagi ceritanya dalam episode ke-15 berjudul Kisah si Bangau Merah.

Episode ini meski masih kental diwarnai oleh kiprah keluarga Pulau Es namun sebenarnya yang menjadi sentral dalam ceritanya adalah keluarga Istana Gurun Pasir. Cerita dalam episode ini memperjelas terkikisnya dominasi marga Suma (keluarga Pulau Es), Kao (keluarga Gurun Pasir), dan Kam (keluarga Suling Emas) mengingat keturunan terakhir mereka semuanya adalah perempuan. Tokoh sentral dalam cerita ini adalah Pendekar Bangau Putih Tan Sin Hong, Kao Hong Li, Suma Lian, dan Gu Hong Beng.

Kisah ini dimulai dengan kunjungan Tiong Khi Hwesio (Wan Tek Hoat) ke Istana Gurun Pasir. Keisengan mereka bertiga yang coba-coba menantang ganasnya badai pasir malah mempertemukan mereka dengan Tan Sin Hong kecil yang sedang mencoba menolong ibunya yang sudah meninggal. Mereka kemudian menolong anak ini dan memutuskan untuk mengangkatnya sebagai murid dan pewaris terakhir ilmu-ilmu sakti yang mereka miliki.

Tan Sin Hong yang sedang mempelajari jurus gabungan intisari ilmu-ilmu dari ketiga gurunya, Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Putih), dilarang untuk mengeluarkan sin-kang dan melakukan gerakan silat selama 1 tahun penuh. Malang tak dapat ditolak, justru di saat ketiga gurunya sedang dalam kondisi lemah setelah menyalurkan sin-kangnya ke Tan Sin Hong, terjadi penyerbuan ke Istana Gurun Pasir oleh Sin-kiam Mo-li dan komplotannya. Kakek Kao Kok Cu dan istrinya Wan Ceng, serta iparnya Tiong Khi Hwesio gugur dengan gagah berani setelah menewaskan sebagian besar menyerangnya, meski tetap gagal menewaskan Sin-kiam Mo-li yang bahkan menyita Ban-tok-kiam danCui-beng-kiam. Tan Sin Hong menyempurnakan jasad guru-gurunya dengan membakarnya beserta seluruh bangunan Istana Gurun Pasir. Keputusan Sin-kiam Mo-li untuk tidak membunuh Tan Sin Hong yang dianggapnya tidak punya kemampuan silat akan menjadi bumerang baginya kelak. Tan Sin Hong yang lolos dari maut kemudian menyepi di sebuah hutan untuk menuntaskan puasa silatnya selama satu tahun.

Setahun kemudian, Tan Sin Hong memutuskan untuk mengungkap misteri kematian orang tuanya lebih dulu sebelum menyampaikan kabar duka kematian penghuni Istana Gurun Pasir ke keluarga Kao Cin Liong. Meski awalnya cukup rumit karena terbunuhnya setiap orang yang punya kaitan dengan peristiwa itu, namun akhirnya muncul titik terang yang mengarahkan pelakunya adalah orang-orang Tiat-liong-pang……

DOWNLOAD E-book

Read Full Post »

Seri 15 : Bu Kek Sian Su

Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Episode ini diawali dengan cerita kedekatan hubungan Yo Han dan Tan Sian Li kecil. Karena watak Yo Han yang unik karena anti kekerasan sehingga tidak mau belajar silat,Tan Sin Hong dan Kao Hong Li khawatir akan menular kepada Tan Sian Li, suami istri itu lalu merencanakan untuk menitipkan Yo Han pada sebuah kuil, yang secara tidak sengaja bocor ke Yo Han hingga anak itu berencana untuk pergi atas inisiatif sendiri.

Sementara itu, perkumpulan Thian-li-pang dikenal sangat berambisi mengusir penjajahMancu bekerjasama dengan Pek-lian-kauw berencana mengadu domba perkumpulan-perkumpulan besar (Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, Go-bi-pai, dan Kun-lun-pai) yang mereka anggap sebagai penghalang perjuangan, rencana ini berjalan dengan mulus dan terjadilah kegemparan luar biasa akibat meningkatnya kekerasan di kang ouw.

Keluarga Pulau Es dan Istana Gurun Pasir secara tidak sengaja terkena getah dari pertikaian ini akibat menolong salah seorang sobat mereka dari salah satu perkumpulan besar, bahkan Kao Cin Liong dan istrinya Suma Hui hampir saja menemui ajal jika saja tidak ditolong oleh Yok-sian Lo-kai. Merasa ada kejanggalan, dua keluarga pedekar ini berinisiatif mempertemukan semua kelompok-kelompok yang bertikai untuk meredakan kekacauan, rencana ini berlangsung dengan baik, akibatnya mereka semakin dibenci olehThian-li-pang dan Pek-lian-kauw.

Saat peristiwa besar itu berlangsung, Yo Han secara ajaib menarik perhatian Lauw Han Kui, wakil ketua Thian-li-pang, yang memang sedang mencari anak berbakat untuk dipersembahkan kepada uwa-supeknya, Thian-te Tok-ong, yang sedang mencari murid. Keinginannya itu tercapai setelah menukarnya dengan 12 remaja yang akan digunakan oleh Ang I Moli sebagai korban kesuksesan ilmu barunya. Dengan segera Yo Han berpindah tangan dan menjadi murid Thian-te Tok-ong yang secara cerdik mengajarinya ilmu samadhi dan silat tangguh yang disamarkan menjadi ‘tarian’.

Secara tidak sadar,Yo Han yang membenci silat justru perlahan terbentuk menjadi pendekar pilih tanding, bahkan Ang I Moli sendiri yang kemudian datang memamerkan ilmu barunya hanya bisa mencak-mencak karena cuma bisa imbang melawan Yo Han. Tan Sian Li sendiri juga berkembang menjadi pendekar wanita tangguh setelah mendapat gemblengan langsung dari ayah dan ibunya.

Yo Han yang merasa iba dengan seorang tahanan misterius, masuk ke dalam sumur dengan maksud untuk menolongnya. Keberuntungan menghampirinya karena tahanan itu ternyata adalah Ciu Lam Hok orang termuda dan terhebat dari 3 serangkai pendiri Thian-li-pang yang dicurangi oleh kedua kakak seperjuangannya karena perbedaan faham mengenai arah Thian-li-pang.

Mengetahui hal itu, Thian-te Tok-ong dan Ban-tok Mo-ko murka dan mengubur sumur itu dengan bebatuan dengan harapan keduanya tewas, namun mereka tidak menyangka bahwa di dalam sumur itu ada gua lain yang membaut keduanya selamat. Yo Han pun diangkat menjadi murid Ciu Lam Hok yang berhasil meruntuhkan prinsip Yo Han mengenai silat dan mewarisinya dengan ilmu super sakti yang belum pernah tampil di dunia luar, Bu-kek Hoat-keng.

Yo Han sendiri yang telah berubah menjadi pendekar yang sulit dicari tandingannya, keluar dari gua untuk melaksanakan 3 amanat gurunya sebelum meninggal, yaitu: mengembalikan Thian-li-pang ke jalan kebenaran, mencari Ciu Ceng adik gurunya, dan menemukan kembali mutiara hitam di tanah selatan (Miauw).

Bagaimana hubungannya dengan Tan Sian Li yang pada dasarnya tidak disetujui oleh Tan Sin Hong suami istri…

DOWNLOAD E-book

Read Full Post »

Seri 13 : Bu Kek Sian Su 

Asmaraman S. Khoo Ping Hoo

Suling Naga adalah Episode ke-13 dari serial Bu Kek Sian Su karya A. S. Kho Ping Hoo. Episode ini menandai berakhirnya era keluarga Suma sebagai tokoh utama pria dan digantikan oleh beberapa tokoh dari luar, meski untuk tokoh utama wanita dan ilmu-ilmu yang diturunkan sebagian masih bersumber dari keluarga Suma. Episode ini merupakan sambungan langsung dari episode ke-12 berjudulKisah Pendekar Pulau Es, dan ceritanya berlanjut ke episode ke-14 berjudul Kisah si Bangau Putih.

Suling Naga (Liong-siauw-kiam) sendiri merupakan nama dari senjata sakti (fiktif) berbentuk suling dengan sisi yang tajam seperti pedang, terbuat dari kayu langka yang direndam dalam ramuan penguat sehingga kekuatannya bahkan melebihi baja. Turun temurun dimiliki oleh pertapa di Himalaya hingga akhirnya diwariskan kepada Sim Houw. Pesilat yang memegang pusaka ini berhak menyandang gelar Pendekar Suling Naga.

Diawali dengan peralihan kepemilikan Liong-siauw-kiam (Pedang Suling Naga) milik Pek-bin Losian kepada Sim Houw, putra dari Pendekar Pedang Naga Siluman Sim Hong Bu, melalui pertarungan yang dimenangkan oleh Sim Houw. Senjata pusaka ini secara unik sangat serasi dengan gabungan ilmu suling emas yang diwarisinya dari Pendekar Suling Mas II Kam Hong serta ilmu pedang naga siluman yang diwarisi dari ayahnya sendiri.

Di saat yang sama, tokoh sesat sakti Sam-kwi (3 Iblis) yang sangat berambisi menghancurkan keluarga Pulau Es dan merebut Liong-siauw-kiam menggembleng murid baru bernama Can Bi Lan, namun hal itu justru menimbulkan iri suci-nya Bi-kwi (Iblis Cantik) Ciong Siu Kwi yang kemudian menyelewengkan semua ilmu yang dipelajari Can Bi Lan hingga menyebabkan dia menjadi linglung dan keracunan hebat. Untungnya dia bertemu dengan pasangan keluarga Gurun Pasir Kao Kok Cu – Wan Ceng yang mengobati dan mengangkatnya sebagai murid, bahkan dia dipinjami pedang maut Ban-tok-kiam (Pedang Selaksa Racun). Suma Ciang Bun yang mengembara tanpa arah secara kebetulan mengangkat murid seorang anak bernama Gu Hong Beng yang diselamatkannya dari tangan kepala daerah lalim yang membunuh kedua orangtua anak itu.

Tujuh tahun kemudian, Sim Houw telah tenar berjuluk Pendekar Suling Naga, selalu mendapat gangguan dari murid-murid Sam-kwi yang berniat merebut senjatanya. Dalam satu kesempatan, Gu Hong Beng yang seperjalanan dengan Can Bi Lan (setelah lari dari sucinya) bersua dengan tokoh sesat Sai-cu Lama yang berhasil merampas Ban-tok-kiam. Senjata yang kemudian digunakan untuk menculikSuma Lian, putri pendekar sakti Suma Ceng Liong, serta membunuh neneknya Teng Siang In. Namun sebelum meninggal, nenek ini sempat menyuruh Gu Hong Beng untuk bersumpah agar kelak menikahi Suma Lian. Sumpah yang membuat Gu Hong Beng minder berhadapan dengan seluruh keluarga besar Pulau Es. Sebelum itu, Can Bi Lan sempat menolak cinta dari 2 pria sekaligus, Gu Hong Beng dan pewaris Lembah Naga Siluman, Cu Kun Tek, kejadian yang kemudian berbuntut panjang.

Di istana, calon perdana menteri Hou Seng yang lalim punya keinginan untuk melanggengkan cengkeramannya atas Kaisar Kian Liong, sehingga dia berupaya mengumpulkan orang-orang berkemampuan tinggi untuk menjaga dirinya serta menghabisi saingan-saingannya, termasuk diantara korbannya adalah seorang menteri jujur bernama Pouw Tong Ki dan keluarganya yang dituduhnya melakukan makar. Tapi kakek sakti Bu-beng Lo-kai (Pengemis Tua Tanpa Nama) Gak Bun Beng berhasil menyelamatkan satu-satunya putri keluarga itu (Pouw Li Sian) serta membebaskan cucunya Suma Lian dari penculikan, kedua bocah itu kemudian diangkat murid dan berikrar sebagai saudara angkat. Gak Bun Beng sendiri menjadi pengelana tanpa tujuan setelah meninggalanya Milana istrinya karena tekanan batin akibat kedua putra kembarnya–Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong (Beng-san Sian-eng atau Sepasang Garuda dari Beng-san)–jatuh cinta dan menikah hanya dengan satu wanita–Souw Hwi Lan–yang tidak lain murid mereka sendiri.

Pertikaian antara pendekar beraliran lurus dengan tokoh-tokoh sesat bawahan Hou Seng setelah diadakan pibu 7 lawan 7 yang dimenangkan oleh para pendekar. Dalam pibu ini Kim Hwa Nio-nio (suci Sam-kwi), Sam-kwi, Sai-cu Lama, dan beberapa tokoh Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw tewas, tetapi Bi-kwi diampuni oleh sumoinya. Kekuasaan Hou Seng mulai melemah sejak saat itu.

Namun setelah itu, Kao Hong Li, putri dari Kao Cin Liong dan Suma Hui, diculik oleh pendeta yang mengaku bernama Ang I Lama, padahal dia adalah samaran dari Sin-kiam Mo-li, murid terkasih Kim Hwa Nio-nio. Akibatnya terjadi kesalahpahaman antara keluarga itu dengan kalangan pendeta jubah merah (Lama). Apalagi kematian Ang I Lama tak lama kemudian saat berusaha menyelamatkan Kao Hong Li malah memperkeruh suasana karena kunjungan keluarga itu sebelumnya ke Tibet. Kesalahpahaman antara Can Bi Lan dan Gu Hong Beng memanas akibat dia membantu suci-nya yang telah bertobat untuk membebaskan petani berhati satria yang dicintainya, Yo Jin. Karena sebelumnya Bi-kwi sempat bertempur dengan Suma Ciang Bun demi kebebasan Yo Jin dan hampir menewaskannya.

Untuk membersihkan namanya, dia jauh-jauh pergi ke Gurun Pasir ditemani oleh Sim Houw untuk menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya, dalam perjalanan inilah benih cinta antara keduanya bersemi. Suami istri penguasa Gurun Pasir menugaskan dia untuk mencari Kao Hong Li sampai ketemu untuk bisa mencuci namanya, saat itulah Can Bi Lan bersumpah tidak akan menikah dengan Sim Houw sebelumnya tugasnya berhasil, hal yang membuat keluarga besar Pulau Es dan Gurun Pasir terkesan atas kelurusan watak serta keteguhan hatinya.

Kelanjutannyasilahkan baca …..

DOWNLOAD  E-book

Read Full Post »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.