Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘OKT / Boe Beng Tjoe’ Category

Pedang Pembunuh Naga  (Pedang Langit & Golok Pembunuh Naga)

Karya: Chin Yung / Disadur: Boe Beng Tjoe

kisah membunuh naga boe boeng tjoe  15

Buku ini merupakan bagian terakhir dari Trilogi Rajawali, meski tokoh-tokoh utamanya tidak terhubung secara langsung dengan kedua bagian sebelumnya. Mengambil letar belakang cerita kurang lebih seratus tahun setelah kisah Kembalinya Sang Pendekar Rajawali.

Bercerita mengenai 2 senjata terhebat di dunia : Pedang Langit dan Golok Naga , yang ditempa oleh Kwee Ceng dan Oey Yong dari pedang Xuan Tie Jian milik Yang Guo, sebelum kejatuhan kota Shiang Yang. Konon bila kedua senjata tersebut disatukan, kedua senjata tersebut dapat memberi pemiliknya kekuasaan yang tak tertandingi, sehingga dia dapat membebaskan China dari penjajahan Mongolia.

Tokoh utama kisah Pedang Langit dan Golok Naga ini adalah seorang anak laki-laki yatim piatu bernama Thio Bu Ki, yang memperoleh ilmu hebat dari Buku Sembilan Matahari dan buku Sembilan Gulungan Keramat. Dia menjadi ketua Sekte Ming, dan di akhir kisah, memungkinkan salah seorang anak buahnya, Cu Goan Ciang, untuk menjadi pendiri dinasti baru China, dinasti Ming. Sementara Thio Bu Ki pergi menyongsong matahari terbenam bersama Tio Beng seorang putri Mongol yang menjadi kekasihnya.

Read Full Post »

PEMBALASAN SEORANG JAGOAN (Menuntut Balas)

Karya : Wu Lin Qiao Zi – Saduran : OKT

menuntut balas

Ayahnya meninggal karena sakit akibat dikeroyok oleh tokoh-tokoh persilatan dari kaum sesat dan lurus, membuat Cia In Gak dalam melakukan perjalanannya di dunia kang ouw berlaku sangat kejam terhadap para lawan-lawanya, sehingga kalau tidak dibunuh tentu dimusnahkan kepandaiannya.

Dalam memperlancar usahanya untuk membalas dendam membuat ia harus menyamar sebagai seorang pelajar tua sehingga diberi julukan Koay Ciu Su Seng (Pelajar Tangan Aneh). Sikapnya yang telengas serta tidak memberi ampun terhadap para penjahat mebuat ia sangat ditakuti baik golongan lurus maupun sesat. Akibat ia menolong seorang tua dan anaknya membuatnya bisa mendapatkan sebuah Kitab 2 jurus tambahan “Bi Lek Sin Kang” yang sudah dipelajari lewat gurunya dan bukan cuma itu saja Kitab Ilmu “Pou Tee Pwee yap Sin Kang” didapatnya dari seorang tokoh sakti dari India yg kemudian dibunuhnya.

Berkat Kitab Hian Wan Sip Pat Kay (18 pengobatan Kaisar Hian Wan) yang dipelajarinya telah membuatnya bisa menyembuhkan penyakit lama dari Kaisar Kian Liong, sehingga ia mendapat hadiah sebuah tanda pengenal khusus dari Kaisar yang mana memudahkannya dalam menundukan pembesar serta para pengawal kerajaan yang memusuhinya.

Cerita petualangannya sangat panjang dan menarik menjadikan cerita karya Wu Lin Qiao Zi ini berbeda dengan karya Khu Lung. Karya lain dari Wu Lin Qiao Zhi adalah “Bujukan Gambar Lukisan”.

Read Full Post »

Hoei Ho Gwa Toan

 Karya: Chin Yung
Disadur: Boe Beng Tjoe/OKT
 

Membaca HoeiHo GwaToan sebelum membaca Swat San Hoei Ho memberi kesan yang berbeda.

Apa sebetulnya yang menarik dengan HoeiHo GwaToan? Tentu saja karena cerita ini adalah prequel dari SwatSan HoeiHo. Bisa jadi si pengarangnya mungkin bahkan tidak memikir untuk pernah menulis prequel nya pada waktu menulis Swat San Hoei Ho. Karena itu apa yang sudah ditulis di SwatSan HoeiHo mengikat pengarangnya, dalam banyak hal membatasi si pengarang untuk bercerita di prequelnya.

Oleh sebab itu SwatSan HoeiHo membatasi cerita HoeiHo GwaToan. Lantas bagaimana agar membuat HoeiHo GwaToan tetap menarik?

Diluar dugaan walaupun ada sejumlah batasan2 itu, tetapi ChinYung bisa menyelesaikan persoalan ini dengan baik.

Karakter utama HoeiHo GwaToan adalah Ouw Hoei, satu karakter yang sudah dimunculkan di cerita Swat San Hoei Ho. Didalam Swat San Hoei Ho karakter utama Ouw Hoei memang justru bahkan bisa disebut se akan2 berada di latar belakang. Dibutuhkan sekian lembar halaman sebelum kemudian OuwHoei dimunculkan. Tetapi inilah `kekhasan’ gaya ChinYung di awal2 kepengarangannya.

Baik Tan Kee Lok, Ouw Hoei, Wan Sien Cie, Kwee Tjeng, Yo Ko juga tidak dimunculkan di lembar pertama, butuh sekian halaman sampai kemudian pembaca sadar oh inilah tokoh utama cerita. Tentu saja itu masuk dalam gaya bercerita.

ChinYung di HoeiHo GwaToan memperkenalkan karakter baru yang memang tidak ada di cerita SwatSan HoeiHo, disamping tentunya sejumlah terbatas karakter yang memang ada di cerita SwatSan HoeiHo, yang menjadi benang merah kedua cerita itu.

Walaupun terbit belakangan tetapi HoeiHo GwaToan adalah cerita tentang masa muda Ouw Hoei, cerita tentang bagaimana dia menjadi seperti Ouw Hoei yang muncul di SwatSan HoeiHo. Di dalam cerita ini dia terlibat asmara dengan dua gadis Wan CieIe dan Thia Leng So.

Walaupun kedua karakter gadis ini menarik, tetapi karakter Wan CieIe lebih biasa lebih mudah untuk dilupakan. Pada saat mengarang HoeiHo Gwa Toan Chin Yung telah menciptakan beberapa karakter perempuan, baik dalam kapasitas sebagai karakter utama maupun sebagai karakter pembantu.

Karakter yang lebih berkesan adalah Thia Leng So, si nona ahli racun yang pintar. Kepintaran Thia Leng So sama dengan Oey Yong. Ada 3 karakter utama nona pintar yang diciptakan oleh ChinYung, mereka adalah Thia Leng So, Oey Yong dan Tio Beng. Sedang Yim Ing Ing dan Ong Giok Yan, walaupun pintar juga tetapi sedikit berbeda, karena terasa lebih lemah, sedang Thia Leng So, Oey Yong dan Tio Beng tidak hanya pintar juga tidak lemah.

Tentu saja ada karakter2 lain yang juga pintar tetapi mereka bukan karakter utama tetapi lebih karakter pembantu.  HoeiHo GwaToan walaupun bercerita tentang OuwHoei, tetapi kehadiran Thia Leng So benar benar mencuri panggung utama cerita ini. Kehadirannya memberi warna yang indah ke dalam cerita ini. Thia LengS o benar2 satu karakter yang kontras dengan karakter perempuan utama di Swat San HoeiHo, Biauw Yok Lan yang se akan2 di ambil dari cerita film Hollywood. Seorang anak yang manja. Tetapi kenapa Biauw Yok Lan seperti ini justru bisa diselesaikan dengan baik di cerita Hoei Ho GwaToan.

Menjadi pengarang adalah menciptakan karakter. Melalui karakter ciptaannya, terutama jika susah dilupakan dan dikenang selalu oleh pembaca, si pengarang menjadi terkenal atau tidak. Thia Leng So satu karakter yang termasuk istimewa, kecintaan dan keberanian untuk berkorban yang ditunjukkan Thia Leng So membuat karakter ini jadi selalu dikenang.  (sumber : http://hkw-ceritasilat.blogspot.com)

DOWNLOAD E-book      

Read Full Post »

Thian Kiam Coat To

Karya: Wo Lung Shen
Disadur : Boe Beng Tjoe/OKT


Dunia persilatan sangat mengharapkan Thian Kiam – Kie Tong (pemilik Ong To Kiu Kiam) dan Pa To – Siang Go (pemilik Toan Hun It To) berduel untuk mengetahui siapa yang lebih unggul, dapatkah Ong To Kiu Kiam membendung Toan Hun It To. Sayang sekali tidak pernah tersiar kabar pertarungan kedua jago tersebut, karena mereka berdua saling menghindari bentrokan, sama-sama tidak yakin bisa mengatasi lawan.

Akhirnya sama-sama menyeberangi Seng Su Kio (jembatan hidup mati) dan hidup mengasingkan diri di sana karena tidak pernah ada orang lain lagi yang berhasil selamat menyeberangi Seng Su Kio yang diliputi kabut tebal dan pusaran angin kencang.

Berpuluh tahun kemudian, barulah Coh Siauw Pek, bocah berusia lima belasan tahun yang diliputi rasa putus asa dan dendam akibat terbasminya orang tua, saudara dan seluruh keluarga berjumlah seratus jiwa lebih oleh 9 partai besar dan 9 bun / pang / hwee ternama, berhasil tanpa sadar melewati Seng Su Kio dan bertemu dengan Kie Tong dan Siang Go.

Berbekal Ong To Kiu Kiam dan Toan Hun It To warisan Thian Kiam dan Pa To, Coh Siauw Pek keluar lagi dari Seng Su Kio dan mulai menyelidiki misteri di balik pembasmian keluarganya yang bermula dari dituduhnya ayah bunda Coh Siauw Pek membunuh 4 orang ketua dari 4 partai besar. Dalam usahanya tersebut, Coh Siauw Pek bertemu dan berserikat dengan beberapa orang gagah yang mendukungnya, membentuk Kim To Bun (Perkumpulan Golok Emas; Kim To ini pernah menjadi lambang keadilan warisan seorang cianpwee).

Menariknya, dalam Kim To Bun ada 2 orang kakak beradik perempuan yang cerdik pandai (keduanya cantik jelita tapi sang kakak buta dan sang adik bisu) yang bertindak sebagai kunsu (penasihat) bagaikan Cukat Liang / Khong Beng dalam cerita Sam Kok……………….

DOWNLOAD E-book


Read Full Post »

Judul Baru Cetak Ulang:

Lambang Penangkal Maut &

Misteri Lambang Penangkal Maut

Karya : Wu Lin Qiao Zhi (Tukang Kayu Rimba Persilatan)

Disadur: OKT

Tokohnya adalah Lie Tiong Hoa, seorang pemuda pelajar yang sebetulnya tidak ingin berkecimpung di dunia Kang Ouw karena kelicikan, kekejaman, dan dendam permusuhan dalam Rimba Persilatan tidak mencocoki jiwanya yang suka hidup tenang tentram; namun perjalanan hidup membuatnya terlibat satu demi satu pergolakan / perebutan di dunia Kang Ouw. Setiap bergebrak, kehebatan ilmunya membuat pesilat lain tercengang, juga tidak pernah kalah, sehingga dikagumi orang dan namanya menjadi terkenal di seantero jagat.

Dalam suatu bagian kisahnya, Lie Tiong Hoa mengejar seorang lawan (bukan dikejar) sampai ke tepi sebuah jurang. Lawannya itu langsung terjun, sehingga Lie Tiong Hoa terheran-heran. Selagi bengong dan pikirannya melayang-layang, lawannya muncul lagi di belakangnya dan mendorongnya hingga terjatuh ke jurang. Ia selamat karena bertemu dengan kera besar berbulu tebal. Ia lalu mengikuti kera tsb memasuki gua berliku-liku dan bertemu dengan seorang sakti – Ay Sian (Dewa Katai) dari See Hek yang sedang bertapa mencari pemecahan ilmunya sampai 20 tahun. Karena ia tanpa sengaja berhasil membantu memecahkan masalah tsb, maka ia diberi pelajaran Ie Hoa Tjiap Bok (Memindahkan Bunga Menyambung Pohon) – ilmu mengibas untuk membalikkan tenaga dalam, seumpama meminjam tombak lawan untuk menembus tameng lawan itu sendiri, semacam ilmu dengan tenaga setail melemparkan batu sekati, seperti ilmu sakti perguruan Lu Su Nio (serial Thian San) atau seperti juga ilmu sakti keluarga Buyung (Pendekar Tayli).

Dalam suatu perjalanan, ia dan seorang gadisnya yang membawa cangkir mustika dihadang oleh kepala pengawal istana yang membawa beberapa pesilat tangguh. Karena ia tidak ingin dikenali oleh kepala sie-wie tsb, maka ia menghindar sebelum bertemu sambil mengeluarkan Ie Hoa Tjiap Bok untuk menumbangkan pohon-pohon di hutan itu. Si kepala sie- wie dan para pesilat itu tidak percaya bahwa hal itu bisa dilakukan dengan tenaga manusia, sehingga lebih mempercayai penyebabnya adalah kejadian alam (gempa).

Ia juga bisa melayang tinggi dengan ilmu ringan tubuh dan tenaga dalamnya yang hebat, tetapi rasanya tidak ada istilah / perumpamaan “helikopter” atau “mesin jet” … hehe. Ia juga punya ilmu Hoei Wan Tjioe (Tangan Kera Terbang) yang bisa membuat tangannya mulur melebihi ukuran normal, yang sering mengejutkan lawan-lawannya.

Perjalanan asmaranya lebih luar biasa lagi. Semua tokoh gadisnya suka rela menyodorkan diri menjadi isterinya, rela dimadu, sehingga “terpaksa” ia menerima nasib saja jodohnya dirangkap dengan 5 orang gadis (mestinya bisa 6 orang, tetapi yang satu tidak diceritakan lagi). Berbeda dengan Wei Siau-po (Duke of Mount Deer) yang aktif mendapatkan isteri-isterinya, Lie Tiong Hoa cenderung alim sesuai derajatnya sebagai anak orang berpangkat yang terpelajar.  (sumber : http://hkw-ceritasilat.blogspot.com)

DOWNLOAD E-book

 

Read Full Post »

Seri : Gie Hiap

Karya : Wang Du Lu

Disadur : OKT

KETIKA cersil masih terasa begitu murni, tanpa ilmu silat luar biasa, belum ada lweekang (tenaga dalam) tak kepalang lihay yang mampu meremukkan batu cadas gunung, pada masa itulah berjaya karya-karya Wang Du-lu.

Kira-kira lima puluh tahun lalu, untuk pertama kalinya saya mencuri baca cersil “HO KENG KOEN LOEN” terjemahan OKT, dari guntingan harian Keng Po yang dibundel Papa saya. Ternyata saya langsung menyukainya, dari sinilah awal kegemaran saya membaca cersil. Kendati detail cerita sebagian besar sudah terpupus dari memori oleh sang waktu dan banyaknya buku yang dilalap, namun intisarinya masih mengendap dalam otak sampai hari ini. Mohon dimaafkan kalau ada kesilapan, namun lebih-kurang sinopsisnya sebagai berikut;

Kang Siauw Hoo, sebagai bocah, menyaksikan sendiri bagaimana ayahnya tewas di tangan Pauw Koen Loen. Padahal beliau adalah salah seorang murid Pauw. Memang ayah Siauw Hoo telah melakukan suatu kesalahan hingga tak bisa diampuni sang guru sekaligus pemimpin perkampungan Pauw yang sangat otoriter. Betapapun, si bocah menyimpan dendam kesumat dan bersumpah dalam hati, kelak akan menuntut balas pada Pauw. Sebagai anak-anak, Siauw Hoo tetap tinggal di perkampungan Pauw, diperlakukan sebagai pelayan hina.

Hanya, Ah-Loan, cucu perempuan kesayangan Pauw yang bersimpati kepadanya.Menjelang remaja, Siauw Hoo memutuskan untuk berkelana di rimba persilatan sembari menuntut ilmu silat. Betapa naifnya, ketika ia berlatih ginkang (ilmu meringankan tubuh) dengan cara melompat naik-turun ke atap genteng penginapan.

Ketika bertemu seorang pendekar dari wilayah lain, Siauw Hoo mengadukan nasib. Si pendekar bersedia mengikutinya ke perkampungan Pauw. Namun kakek Pauw kelewat kosen, hingga pendekar undangan Siauw Hoo dipecundangi. Tak kenal putus asa, Siauw Hoo terus mencari, sampai bertemu seorang kakek aneh, yang selalu tahu-tahu berjalan di depannya, kendati tadi sudah ditinggalkan Siauw Hoo yang berkuda. Sadarlah pemuda kita, kalau ia telah bertemu pendekar sakti. Memang benar, sang kakek adalah Kiu Hoa Loojin, yang membawa Siauw Hoo ke Kiu-hoa-san (Gunung Sembilan Bunga).

Di sini Siauw Hoo digembleng ilmu silat bersama suheng (abang seperguruannya) , si Gagu Ah-Hiap. Bertahun-tahun kemudian, Siauw Hoo turun gunung sebagai pemuda gagah dengan nama baru, Kang Lam Hoo. Dalam pengembaraannya ia bertemu dua pendekar muda lain. Lie Hong Kiat yang tenang dan bergaya pelajar, serta Kie Kong Kiat yang gagah dan temberang.

Kang Lam Hoo menantang Pauw Koen Loen bertanding. Sekarang memang ilmunya sudah tinggi, hingga bisa membuat si kakek Pauw sengsara habis-habisan. Namun cintanya pada Ah-Loan yang telah menjadi gadis pendekar jelita membuat Kang terombang-ambing antara dendam dan cinta. Sedangkan Lie Hong Kiat dan Kie Kong Kiat merupakan sahabat sekaligus saingannya dalam bersilat dan kemelut asmara!

Sesungguhnya “Ho Keng Koen Loen” atau “Riwayat Kang Lam Hoo” merupakan cerita pertama dari pentalogi (lima buku) karya empu Wang Du Lu (1909-1977). Pentalogi tersebut diterbitkan di Hong Kong dari tahun 1936 sampai dengan 1944. OKT yang mengalihkannya ke bahasa Indonesia, dan kemudian dibukukan oleh penerbit Keng Po berurutan sebagai berikut:

“Ho Keng Koen Loen” (1954)
“Po Kiam Kim Tjee” (1956)
“Kiam Kie Tjoe Kong” (1958)
“Go Houw Tjhong Liong” (1959)
“Tiat Kie Gin Pan” (1960)

Dari pentalogi ini yang paling terkenal kemudian adalah “Go Houw Tjhong Liong” karena difilmkan oleh Ang Lee dengan tajuk, “Crouching Tiger Hidden Dragon”. Aktor simpatik Chow Yun-fat berperan sebagai Li Mu Bai. Dalam dialek Tionghoa-Hokkian, Li Mu Bai dibaca Lie Bouw Pek (bukan lain daripada anak Lie Hong Kiat yang menjadi murid Kie Kong Kiat dan juga mewarisi ilmu Kang Lam Hoo).

Cara bertutur Wang Du Lu yang diterjemahkan dengan baik oleh OKT telah membuat ribuan pembaca kesengsem. Sulit dilupakan bagi yang pernah membacanya. Sedangkan mengenai aspek humanisme (kemanusiaan) serta kependekaran Kang Lam Hoo menurut pendapat saya pribadi, bisa disejajarkan dengan riwayat Miyamoto Musashi, si ronin samurai yang menggetarkan. (sumber : http://hkw-ceritasilat.blogspot.com)


Read Full Post »

PENG CONG HIAP ENG

Karya: Liang Ie Shen / Disadur : OKT

Salah satu karya Liang Ie Shen yang terbaik. Yang paling mengesankan dari cersil ini adalah romantismenya. Pendekar dara remaja In Lui, bertemu dan bersahabat dengan pendekar gagah Thio Tan Hong. Pola klasik dara pendekar menyamar pria seperti Ceng-ceng dan Wan Sin-cie (“Kim Coa Kiam”), Oey Yong dan Kwe Ceng (“Sia Tiauw Eng Hiong”), serta puluhan cersil lain.

Ternyata muda-mudi ini sama-sama cucu-murid datuk Hian Ki It Su, hingga bila ilmu pedang mereka dipadukan menjadi dahsyat luar biasa. Malangnya, ternyata kakek In Lui adalah musuh bebuyutan ayah Thio Tan Hong, hingga bagaimana mungkin perjodohan mereka bisa terangkap?

Ayah Thio Tan Hong dikenal sebagai tokoh pintar yang dicap pengkhianat besar karena menjadi Perdana Menteri negeri Watzu (Mongolia). Beliau menyandera duta Kerajaan Beng yang bukan lain daripada kakek In Lui. Duta malang ini diperbudak sebagai pekatik, pencari rumput untuk kuda. Ketika ia berhasil membawa keluarganya lari dari Watzu, tepat di luar Tembok Besar, malah dipaksa minum arak beracun kiriman Raja Ben, kakek In Lui pun tewas mengenaskan setelah menciumi segenggam tanah airnya…

Itulah dendam turunan yang diwarisi anak-cucu si kakek patriot. In Lui mesti patuh pada ayah dan abangnya yang menerima amanat almarhum. Betapa pun tulus cinta In Lui dan Thio Tan Hong, mereka memutuskan tidak bertemu lagi. Tapi takdir terus mengombang-ambingkan hingga memaksa mereka berduet lagi dan lagi menghadapi lawan-lawan tangguh. Bahkan Hek-Pek Mo-Ko (Sepasang Iblis Hitam-Putih) yang tersohor keganasannya pun mampu mereka taklukkan!

Sedikit demi sedikit mulai terungkap, hakekatnya ayah Thio Tan Hong bukan pengkhianat, justru mempunyai tujuan mulia, mencegah bangsa Mongolia menyerbu ke Tionggoan. (sumber : http://hkw-ceritasilat.blogspot.com)

DOWNLOAD E-book

 

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.